CONTOH PROPOSAL
ANALISA HUBUNGAN PRESTASI PRAKTIK KERJA INDUSTRI
DENGAN KESIAPAN MENTAL KERJA SISWA KELAS III
JURUSAN TEKNIK OTOMOTIF
DI
SMK NEGERI 1 NABIRE
PROPOSAL
Diajukan untuk memenuhi
persyaratan dalam memperoleh gelar sarjana Teknik Industri Pada Fakutas
Teknologi dan Rekayasa Universitas Satya Wiyata Mandala

Disusun
Oleh :
HOSEA KUDIAI
NPM. 1601018
JURUSAN
TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI DAN REAYASA
UNIVERSITAS SATYA WIYATA MANDALA NABIRE
NABIRE
2021
LEMBAR PERSETUJUAN
PROPOSAL
“ ANALISISA HUBUNGAN PRESTASI PRAKTIK KERJA INDUSTRI
DENGAN KESIAPAN MENTAL KERJA SISWA KELAS III
JURUSAN TEKNIK OTOMOTIF ”
DI
SMK NEGERI 1 NABIRE
NAMA : HOSEA KUDIAI
NPM : 1601018
JURUSAN
: TEKNIK INDUSTRI
Diajukan
untuk memenuhi persyaratan dalam memperoleh gelar sarjana pada Fakultas
Teknologi dan Rekayasa Universitas Satya Wiyata Mandal Nabire.
Menyetujui
Program Studi Dosen
Pembimbing I
EVERLY D. A TITALEY, ST,MTEVERLY D. A TITALEY, ST,MT
NIDIN.
1215047001
NIDIN. 1420018101
Mengetahui
Dekan Fakultas Teknologi Dan Rekayasa
HERMANUS J SURIPATTY,
M.SI
NIDN. 1219076701
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhhan Yang
Maha Esa atas Rahmat dan Kasih Karunia yang dilimpakan kepada penulis sehingga
dapat menyelesaikan proposal dengan judul :“ ANALISA HUBUNGAN
PERESTASI PRAKTIK KERJA INDUSTRI DENGAN
KESIAPAN MENTAL KERJA SISWA KELAS
III JURUSAN TEKNIK OTOMOTIF DI SMK N. 1
NABIRE ”pada Jurusan Teknik Industri
Fakultas Teknologi dan Rekayasa Universitas Satya Wiyata Mandala dapat
selesaika dengan baik.
Penulis proposal ini merupakan
salah satu syarat akademis yang harus di tempuh oleh mahasiswa jurusan teknik
industri, juga untuk menambah wawansan bagi penulis dan pembaca.
Melalui kesempatan ini, penulis
ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat :
1.
Bapak Drs. L Sitorus selaku ketua yayasan
cenderawasih
2.
BapakDrs. Petrus Izaach Suripatty, M.Si, selaku Rektor Universitas Satya
Wiyata Mandala ( USWIM ) Nabire
3.
Bapak Hermanus J Suripatty, ST.M.Si selaku Dekan Fakultas Teknologi dan
Rekayasa Universitas
Satya Wiyata Mandala Nabire
4.
Bapak
Hendrik Natobtiga, ST, MT selaku
Wakil Dekan
5.
BapakEverly D.A. Titaley, ST.MT, selaku Ketua Jurusan Teknik Industri Universitas Satya Wiyata Mandala sekaligus
pembimbing I yang telah membimbing Proposal
6. Bapak/Ibu Dosen Pengajar jurusan Teknik
Industri Universitas Satya Wiyata Mandala Nabire yang telah membimbing dan
memberikan materi selama perkuliahan Teknik Industri.
7. Menyadari
proposal ini masih jauh dari sempurna dan banyak kekurangan, dengan tangan
terbuka penulis menerima segala kritikan dan saran demi kesempurnaan proposal
ini, dan semoga proposal ini berguna bagi penuis khususnya dan pembaca pada
umumnya.
Nabire, Maret, 2020/2021
Peneliti
Hosea Kudiai
NIM. 1601018
A.
Judul :
ANALISA HUBUNGAN PRESTASI PRAKTIK
KERJA INDUSTRI DENGAN KESIAPAN MENTAL KERJA SISWA KELAS III JURUSAN TEKNIK
OTOMOTIF DI SMK N. 1 NABIRE
B.
Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu proses
yang berperang membentuk peserta didiknya menjadi sumber daya manusia (SDM)
yang memiliki keahlian profesional, kreatif, unggul dan brakhal mulia sebagai
aset bangsa dalam menyukseskan pembangunan nasional. Hal ini diperjelas dalam
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional
yang menyatakan bahwa:
“Pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabata dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi serta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraklhak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kereatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggun
jawab” (Depdikbud,2003:3).
Memasuki abad ke-21 gelombang
globalisasi dirasakan kuat dan terbuka,kemajuan teknologi dan perubahan yang
terjadi memberikan kesadaran bahwa indonesia berada di tengah-tengah dunia
yang baru, dunia terbuka menjadi orang
bebas membandingkan dengan kehidupan negara lain. Pendidikan memang telah
menjadin penopang dalam meingkatkan sumr daya mansia (SDM) /untuk pembangunan
bangsa. Oleh karena itu kita seharusnya dapat lebih terus meningkatkan SDM yang
kita miliki agar tidak salah bersaing dengan SDM dari negara-negara lain. Dalam
membenahi segala bentuk kekurangan dalam industri, bangsa indonesia harus mampu
mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga benaar-benar mampu
bersaing dengan sumber daya manusia dari negara lain. Siap ataupun tidak,
bangsa indonesia siap ikut serta dalam persaigan antra bangsa yang semakin
tajam dibidang ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi. Situasi seperti ini di
satu sisi tentu saja akan membawa persaigan yang semakin ketat dan tajam.
Pelaksaan pembangunan khususnya di
bidang industri akan sangat lancar apabila tersedia SDM yang berkualitas, yaitu
manusia yang terdidik, trampil, punya keahlian dan berdisiplin. Untuk
memenuhinya, kesiapan kualitas SDM makin di tingkatkan. Jalurnya juga turut di
persiapkan melalui sistem pendidikan yang di sesuaikan untuk mampu mengatasi
kebutuhan Sumber daya manusia(SDM).
Sejak ekonomi indonesia terpuruk
pada tahun 1997, angka pengangguran di indonesia tidak berkurang, justru setiap
tahun selalu bertambah. Hal ini karena jumlah angkatan kerja lulus pada setiap
tahunnya tidak bisa terserap habis di tahun tersebut. Atas fenomena ini di
harapkan sistem pendidikan di indonesia dapat di kembangkan untuk angka siap
kerja dan mencegah bertambahnya pengangguran. Menjawab permasalahan ini,
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi salah satu jalan keluarnya dalam
menyiapkan sumber daya manusia yang cukup potensial.
SMK merupakan salah satu lembaga
pendidikan yang bertanggung jawab untuk menciptakan SDM yang memiiki kemampuan,
keterampilan dan keahlian sehinga lulusannya dapat mengembangkan kinerja
apabila terjun dalam dunia kerja. Pendidikan SMK itu sendiri bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan siswa untuk dapat mengembangkan diri sejalan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menyiapka siswa untuk
memasuki lapangan kerja dan mengembangkan sikap professional.
Indonesia sebagai negara yang
sedang berkembang sekarang ini menghadapi beberapa keprihatinan nasional terutama
di bidang ketenagakerjaan. Pertambahan penduduk dan angkatan kerja setiap tahun
lebih besar dari pertambahan lapangan kerja produktif yang dapat di ciptakan.
Disamping tidak seimbangnya jumlah angkatan kerja, denngan lapangan kerja,
kualitas tenaga kerja pada umumnya relatif rendah karena rendahnya pendidikan
dan latihan yang diperoleh.
Dalam BangkaPos.com (2009),
dijelaskan bahwa cukup kotradiktif, pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)
sebagai lembaga yang mempersiapkan lulusan siap pakai justru terbalik. Data
badang pusat statistik (BPS) menyebutkan tahun 2008 sampai saat ini SMK paling banyak menjadi pengangguran yakni
17,26%, di susul tamatan SMA 14,31%, diploma I/II/III sebesar 11,21% serta
universitas 12,59%.
Jika dibandingkan tahun 2008 lalu
bahwa tinggkat pengangguran tahun 2009 mengalami penurunan dari 8,39% menjadi
7,87%, akan tetapi jumlah pengangguran lulusan SMA, Diploma I/II/III dan
sarjana masing-masing justru mengalami kenaikan sebesar 0,19%, 2,45% dan 0,49% menjadi 14,50%, 13,66% dan
13,08%, hanya lulusan SMK saja mengalami penurunan sebesar 2,67%,.Walaupun
tingkat pengangguran SMK menurun bila di bandingkan tahun 2008 lalu, pengangguran sekarang ini masih
didominasi oleh lulusan SMK yaitu sebesar 14,59% (Anonim, 2010).
Pemerintah sebenarnya sempat
mencanangkan sebuah program keterpaduan antara dunia pendidikan dengan dunia
kerja melalui sebuah program yang lebih dikenal Link and Matchnamun sekarang program ini tak terdengar kembali seiring
pergantian pemerintahan dan krisis ekonomi yang melanda. Sebenarnya dalam mesih
negerikan dunia pendidikan dengan dunia kerja, sekolah dituntut untuk lebih
proaktif mewujudkannya. Upaya-upaya yang di lakukan pemerintah dalam memperluas lapangan kerja sehingga dapat
mengurangi pengangguran adalah dengan mengembangkan potensi-potensi daerah di
berbagai sektor yang menampung tenaga kerja dalam jumalah banyak. Pengembangan
sektor-sektor pembangunan yang mempuyai prospek cerah dan daiya dukung yang
besar terus di kembangkan, termasuk pada sektor industri. Dengan berkembangnya
sektor industri akan sanggat memperluas lapangan kerja, sehingga akan mempuyai
perospek cerah dalam menampung jumlah tenaga kerja.
Menurut Yos Rizal ( 2009 ), ada
tiga faktor mendasar yang menjadi penyebab masih tingginya tingkat pengangguran
yaitu tidak sesuaian antara hasil yang dicapai antara pendidikan dengan
lapangan kerja, ketidakseimbangan permintaan dan penawaran, serta kualitas
sumber dayamanusia yang dihasilkan masih rendah, sedangkan M. Yusuf Hasibuan (
2009 ) mengatakan bahwa industri saat ini membentuhkan tenaga kerja siap
mengoperasikan alat-alatnya. Kenyataannya sekolah tidak dapat memenuhi tuntutan
perusahaan dan tidak siap kerja. Akibatnya perusahaan harus mengeluarkan biaya
yang besar untuk melaksanakan pelatihan bagi bagi karyawan. Apabila sekolah
telah dapat menghasilkan lulusan siap kerja maka pengeluaran untuk training karyawan
dapat di alihkan pengembangan lainnya.
Para lulusan SMK dari Jurusan
Otomotif yang akan bekerja di industri harus menjalani masa latihan ( training
). Hal tersebut di maksudkan agar pihak industri meendapatkan tenaga kerja
lulusan SMK dari Jurusan Otomotif yang akan bekerja di dunia industri mempunyai
kualitas kerja yang rendah, sehingga mereka tidak siap untuk memasuki atau
bekerja di dunia industri.
Joko Sutrisno ( 2009 ) mengatakan
bahwa siswa kita sebenarnya mampu bersaing asal dipersiapkan dengan baik.
Memang kelemahan dari segi peralatan jadi salah satu halangan untuk bisa berprestasi
dengan baik, oleh karena itu kita mestilebih meningkatkan kualitas pembelajaran
siswa SMK baik dari segi infrastrukturnya di sekola maupun mental siswa untuk
maju dan mampu bersaing.
Selanjutnya Jiem Bourhan ( 2009 )
dari sisi keahlian atau kompetensi sebenarnya siswa SMK bidang teknologi tdak
di ragukan lagi. Sebab, dari pengakuan industri minta SMK-SMK selama ini konon
tidak ada masalah. Namun yang masih menjadi masalah mengenai sikap mental yang
masih perlu diperbaiki. Jiem mengakui keluhan industri selama ini karyawan
lulusan SMK adalah sikap mentalnya. Padahal, sikap dan mental itu sangant
penting bagi industri mengingat bekerja sama di industri diperlukan kerja tim
dan itu membutuhkan disiplin yang tinggi karena orang satu dengan yang lainya
menetukan produk akhir dari proses industri.
Kompetensi yang dimiliki tamatan
dari sekolah formal ternyata belum semuanya mampu untuk mengisi kesempatan
kerja yang tersedia, sehingga masih membutuhkan leverage ( pendongkrak ) dalam bentuk pelatihan kerja. Hal ini
dibuktikan dengan adanya keluhan dari dunia usaha/industri ( sebagai salah satu
stakeholders SMK ) terhadap
keterampilan kerja lulusan. Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK ) menunjukkan
rendahnya kompetensi untuk bekerja pada bidang keahliannya. Rendahnya kopetensi
di sebabkan oleh beberapa hal salah satunya dimungkinkan tidak relevannya
kompetensi diklat ( mata pelajaran ) produktifitas yang pelajari di sekolah
dengan kebutuhan yang ada di lapangan ( dunia usaha/industri ). Hal ini bisa
terjadi karena pada waktu prosesnya SMK berjalan sendiri tanpa
mengikutsertakan/melibatkan pihak dunia usaha/industri ( Anonim, 2009 ).
Pemerintah menyadari betapa
pentingnya pengembangan SMK di samping
SMA yang selama ini mendapatkan prioritas. Pemerintah pun kembali menegaskan
perubahan rasio jumlah yang semula SMA ( 70 % )
dan SMK ( 30 % ), dan SMK ( 70 %
) hingga pada tahun 2015. Hal tersebut di maksudkan untuk mendorong keluaran (
output ) pendidikan agar lebih relevan dengan tuntutan kebutuhan angkatan kerja
( Anonim, 2008 ).
Pemerintah terus mendorong minat
tahun lulusan SLTP untuk melanjutkan studi di Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK )
namun sejauh ini daya serap lapapangan kerja terhadap lulusan SMK masih relatif
rendah. Menurut Samsudi ( 2008 )
mengatakan daya serap ideal lulusan SMK seharusnya mencapai 80-85 % sedangkan
sekitar 15-20 % lulusan SMK lainnya di mungkinkan melanjudkan studi ke
perguruan tinggi, dalam nabire. com (
2010 ) di jelaskan SMK Negeri 1 Nabire
bentuk memiliki peralatan praktik standar industri termasuk standar sumber daya
manusia ( SDM ) mengajar sehingga bisa mengantarkan lulusannya memasuki dunia akan
tetapi dari 100 lulusan setiap tahunnya di baru sekitar 60 % lulusan terserap
kerja, seharusnya dengan fasilitas lengkap tersebut dan didukung tenaga pegajar
yang baik lulusan yang terserap dunia kerja dapat lebih banyak lagi atau dapat
mendekati 100 %.
Berdasarkan observasi yang
dilakukan di SMK Negeri 1 Nabire sekolah tersebut termasuk dalam salah satu SMK
Negeri. SMK Negeri 1 Nabire memiliki fasilitas praktis yang lengkap dan tenaga
mengajar yang memiliki pengetahuan yang
cukup sehingga dalam proses belajar mengajar dapat berjalan sesuai
dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Untuk Bidang Keahlian Teknik
Otomotif fasilitas praktik tersebut diantaranya adalah mesin sepeda motor, mesin
diesel, mesin injeksi ( EFI ), bahkan sejak tahun 2007 sekolah tersebut telah
memiliki unit bengkelan resmi bengkel
Makmur dalam nabirenet.com di jelaskan bahwa SMK N 1 Nabire merupakan satu
satunya sekolah SMK yang menerapkan pratik pegembangan bengkelan, bahkan siswa
dan guru telah menemukan bahan bakar alternatif laimya.
Berdasarkan permasalah tentang
tingginya pengangguran lulusan SMK yang disebabkan ketidakesesuaian kualitas
lulusan SMK yang masih rendah dengan kebutuhan SDM di dunia kerja dan kurangnya
kompetensi lulusan untuk menjadi tenaga kerja siap pakai dalam mengoperasikan
alat-alat di peerusahan, maka penelitian ini di lakukan untuk mengtahui
Hubungan Antara Prestasi Praktik Kerja Industri dan Kesiapan Mental Kerja
Siswa.
C.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah
di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.
Bagaimana
hubungan perestasi prakatik kerja industri dan kesiapan mental kerja siswa kelas
III jurusan teknik otomotif SMK Negeri 1
Nabire ?
D.
Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah
dan rumusan masalah di atas, agar permasahan menjadi jelas dan terpusat serta
tujuan penelitian dapat tercapai, maka penelitian ini dapat dibatasi hanya membahas tentang Hubungan Antara Prestasi
Praktik Kerja Industri dan Kesiapan Mental Kerja Siswa Kelas III Jurusan
Otomotif SMK Negeri 1 Nabire.
E.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di
atas, maka tujuan penelitian ini adalah :
·
Mengetahui
hubungnan antara prestasi praktik kerja industri dan Kesiapan Mental Kerja
Siswa Kelas III Jurusan Teknik Otomotif SMK Negeri 1 Nabire.
F.
Manfaat Penelitian
Hasil dan penelitian ini dapat
dijadikan tambahan referensi dalam
peningkatan kesiapan mental kerja siswa. Setelah melaksanakan Penelitian
Hubungan Antara Prestasi Praktik Kerja Industri dan Kesiapan Mental Kerja Siswa
diharapakan dapat meningkatkan kualitas lulusan SMK.
Secara
lebih khusus, penelitian ini manfaatnya dapat di bedakan menjadi :
1.
Manfaat Secara Teoretis
a.
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan atau untuk acuan
penelitian selanjutnya dengan pokok bahasan
yang serupa.
b.
Hasil
penelitian ini dapa menambah perbendaharaan ilmu pengetahuan dalam peningkatan
kesiapan kerja siswa SMK.
2.
Secara praktis
Bagi Sekolah :
a.
Hasil
penelitian ini diharapkan dapat masukan kepada guru mengenai pentingnya proses
pembelajaran dan diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sehingga
siswa dapat lebih percaya diri terhadap kesiapn mental kerja.
b.
Terciptanyakepedulian
terhadap kualitas pembelajaran.
c.
Terciptanya
budaya penelitian untuk menganalisis masalah dan penemuan solusi pemecahan
masalh-masalah di sekolah.
G.
Sistematika Penulisan
Bab I Pendahuluan
Bab II Landasan Teori
Bab III Analisa Masalah
Bab IV Pembahasan Masalah
Bab V Penutup
H.
Landasan Teori
Berdasarkan teori-teori dan
kerangka berpikir yang telah diuraikan di atas, maka hipotesis penelitiannya
adalah terdapat hubungan positif dan signifikan antara prestasi praktik kerja
industri dengan kesiapa mental kerja siswa kelas III jurusan teknik otomotif
SMK 1 Nabire.
I.
Landasan Teori
1.
Sekolah Menengah Kejuruan
Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) sebagai
bentuk satuan pendidikan kejuruan
sebagaimana ditegaskan dalam
pasal 15 UU SISDIKNAS, merupakan
pendidikan menengah yang
mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang
tertentu. Adapun tujuan dari SMK dibedakan
menjadi tujuan umum
dan tujuan khusus,
tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah sebagai berikut :
a. Tujuan umum
1)
Meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta
didik kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2)
Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi warga negara yang berakhlak
mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri,demokratis, dan bertanggung jawab.
3)
Mengembangkan potensi peserta didik
agar memiliki wawasan kebangsaan, memahami dan menghargai
keanekaragaman budayabangsa Indonesia.
4)
Mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan
hidup, dengan secara
aktif memelihara danmelestarikan lingkungan hidup, serta
memanfaatkan sumber dayaalam dengan efektif dan efesien.
b. Tujuan khusus
1)
Menyiapkan peserta didik agar menjadi manusia produktif, mampu bekerja
mandiri, mengisi lowongan pekerjaan yang
ada di duniausaha dan dunia
industri sebagai tenaga kerja tingkat menengahsesuai dengan kompetensi dalam
program keahlian yang dipilihnya.
2)
Menyiapkan peserta didik agar mampu memilih
karir, ulet dan gigih dalam berkompetensi, beradaptasi di
lingkungan kerja, danmengembangkan
sikap profesional dalam
bidang keahlian yang diminatinya.
3)
Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan
seni agar mampu mengembangkan diri
dikemudian hari baik secara
mandiri maupun melalui jenjang
pendidikan yang lebih tinggi.
4)
Membekali peserta didik
dengan kompetensi-kompetensi yang
sesuai dengan program keahlian
yang dipilih.
SMK merupakan salah satu lembaga
pendidikan yang bertanggung jawab
untuk menciptakan Sumbar
Daya Manusia yang
memiliki kemampuan,
keterampilan dan keahlian sehingga
lulusannya dapat mengembangkan kinerja
apabila terjun dalam
dunia kerja. Pendidikan SMK itu sendiri bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan siswa untuk dapat mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi,
serta menyiapkan siswa
untuk memasuki lapangan kerja dan
mengembangkan sikap professional. SMK sebagai salah
satu institusi yang
menyiapkan tenaga kerja, dituntut mampu menghasilkan lulusan sebagaimana
yang diharapkan oleh dunia kerja. Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah sumber
daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai dengan bidang pekerjaannya,
memiliki daya adaptasi dan
daya saing yang
tinggi. Oleh karena
itu, arah pengembangan
pendidikan menengah kejuruan diorientasikan pada kondisi dan penentuan
permintaan pasar kerja
serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pendidikan dan
Pelatihan di SMK
pada dasarnya mempersiapkan lulusan guna
memasuki dunia kerja serta
mengembangkan sifat professional,
produktif dan mandiri. Berarti setiap SMK ikut bertanggung jawab dalam
mempersiapkan tenaga kerja
tingkat menengah yang berkualitas yang memiliki kompetensi dan
daya saing untuk menghadapi tantangan
era globalisasi atau
pasar kerja bebas
yang penuh dengan persaingan dan tantangan.
Agar mutu lulusan SMK sesuai dengan
kebutuhan dunia industri, terutama
dengan industri pasangannya,
maka diperlukan adanya
suatu dokumen kurikulum yang
benar-benar dirancang untuk
memenuhi kebutuhan tersebut. Adapun sebagai langkah kongkritnya adalah
dengan diberlakukannya kurikulum SMK
yang menganut pendekatan
sebagai berikut: (a) pendekatan akademik; (b) pendekatan kecakapan hidup
(life skills); (c) pendekatan kurikulum berbasis kompetensi (competency-based curriculum);
(d) pendekatan kurikulum berbasis luas dan mendasar (broad- based curriculum);
dan (e) pendekatan
kurikulum berbasis produksi (Anonim, 2008).
2. Kesiapan Mental Kerja
Kesiapan merupakan modal utama
bagi seseorang untuk melakukan pekerjaan
apa saja sehingga
dengan kesiapan ini
diperoleh hasil yang maksimal. Kesiapan dalam Kamus Basar Bahasa Indonesia berasal dari kata siap
yang berarti sudah
sedia atau sudah
disediakan (tinggal memakai/menggunakan
saja). Jadi kesiapan berarti kondisi atau keadaan yang sudah
siap (Tim Penyusun
Kamus Pusat Bahasa,
2007: 895). Sedangkan dalam
kamus psikologi kesiapan
(readiness) adalah tingkat perkembangan dari
kematangan/kedewasaan yang menguntungkan
bagi pempraktekan sesuatu (Chaplin, 2002: 418).
Hal ini berarti kesiapan dapat
dipandang sebagai suatu karakteristik yang diperlukan seseorang untuk melakukan
suatu kegiatan tertentu agar dapat
berjalan dengan baik
dan lancer, kesiapan
juga menunjukkan perikaku yang
dimiliki seseorang sebelum
mencapai perilaku yang diinginkan. Dengan
perkataan lain, kesiapan
menunjukkan keadaan pengetahuan dan
keterampilan yang dimiliki
sekarang dalam kaitannya dengan keadaan berikutnya yang akan
dicapai seseorang. Kesiapan dapat berlaku bagi seseorang, kelompok orang maupun
lembaga tertentu. Berarti seseorang, kelompok orang maupun lembaga tertentu
dikatakan siap dalam melakukan tingkah
laku tertentu apabila telah mempunyai titik kematangan dan pengalaman terhadap
sesuatu.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan
bahwa kesiapan yaitu suatu keadaan atau
kondisi sudah siap atau sedia
untuk melaksanakan kegiatan atau
aktifitas dengan cara
tertentu sesuai dengan
kemauan, keinginan,
kemampuan, tingkat kematangan,
pengalaman-pengalaman sebelumnya, kondisi emosi dan mental orang yang
bersangkutan. Selain itu, kesiapan seseorang
tidak bisa lepas dari
faktor pengetahuan dan keterampilan yang sudah dimiliki seseorang
sebelum melakukan sesuatu hal, karena
pengetahuan dan keterampilan
akan membantu seseorang dalam melaksanakan atau menjalankan
tugasnya.
Sukirin yang
dikutip Nurhasan (2004:
25) menyatakan bahwa kesiapan terhadap
sesuatu akan terbentuk
jika telah tercapai
perpaduan antara tingkat kemasakan,
pengalaman yang diperlukan
serta keadaan mental dan emosi
yang serasi.
a.
Tingkat kemasakan adalah
suatu saat dalam
proses perkembangan dimana suatu
fungsi fisik dan mental telah mencapai perkembangan yang sempurna. Tingkat
kemasakan ini banyak berhubungan dengan usia dan fisik seseorang.
b.
Pengalaman-pengalaman yang diperlukan yaitu pengalaman-pengalaman tertentu yang diperoleh
anak yang ada sangkut pautnya dengan
keadaan lingkungan, kesempatan-kesempatan yang
tersedia dan pengaruh dari
luar yang disengaja
seperti pendidikan danpengajaran yang
terorganisasi serta pengaruh
dari luar yang
tidak disengaja. Oleh karena
pengalaman merupakan faktor
penentu kesiapan maka terbentuknya kesiapan
terhadap sesuatu dapat direncanakan pengalaman apa saja yang
diberikan kepada anak.
c.
Keadaan mental dan
emosi yang serasi adalah
suatu keadaan yang meliputi sikap
kritis, memiliki pertimbangan
logis dan obyektif, bersifat dewasa dan emosionalnya
terkendali.
Berdasarkan uraian tersebut maka tingkat
kesiapan seseorang akan terbentuk
bila telah tercapai
perpaduan antara
tingkat kematangan, pengalaman yang
diperlukan, mental dan emosi yang
serasi dari orang yang
belajar. Oleh karena
itu pengalaman merupakan
salah satu faktor penentu kesiapan,
maka untuk menciptakan
terbentuknya kesiapan seseorang terhadap
sesuatu dapat direncanakan dari
pengalaman- pengalaman tertentu yang harus diberikan kepada orang
tersebut.
Pengalaman-pengalaman tertentu
yang diperoleh sebelumnya
dan kemasakan fisiknya turut
menentukan terbentuknya kesiapan.
Dengan demikian siswa yang telah banyak memiliki pengalaman atau
pengetahuan akan mempunyai kesiapan
diri yang lebih
besar untuk melaksanakan tugas-tugas dalam
prakteknya. Berdasarkan pendapat
tersebut dapat dikemukakan bahwa
kesiapan terhadap sesuatu
dapat diartikan sebagai tingkat kesiapan
untuk menerima dan mempraktekkan
tingkah laku tertentu yang dipengaruhi oleh tingkat kemasakan, pengalaman-pengalaman
yang diperlukan serta keadaan mental dan emosi yang serasi.
Sedangkan kerja
dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai : 1) kegiatan
melakukan sesuatu, 2) suatu kegiatan yang dilakukan untuk
mencari nafkah (Tim
Penyusun Kamus Pusat
Bahasa,2007: 554). Bekerja
menurut Moh. As’ad
(1991: 46) mengandung
arti melaksanakan suatu tugas
yang diakhiri dengan buah karya
yang dapat dinikmati oleh manusia yang bersangkutan. Bekerja bagi
manusia adalah suatu kebutuhan, baik
untuk aktualisasi diri
maupun untuk mengarungi kehidupan di dunia.
Menurut Finch dan Crunkilton yang
dikutip oleh Winardi (1993: 21), bahwa
untuk membentuk kesiapan
kerja siswa SMK
selain diperlukan pengetahuan
dalam bentuk teori maupun praktek juga diperlukan aspek mental atau sikap
kerja. Sikap merupakan salah satu aspek mental yang menyebabkan
timbulnya pola-pola berfikir
tertentu dalam diri
individu. Jika sikap telah terbentuk maka sikap ini akan turut
menentukan cara-carabertingkah laku terhadap obyek tertentu.
Kesiapan kerja
seseorang ditinjau dari
aspek mental menurut Herminarto Sofyan (1992: 23)
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a ) sikap kritis,
b)
memiliki pertimbangan yang logis dan
obyektif,
c)
mampu mengendalikan emosi dan
d) rasa percaya diri.
Dengan demikian
kesiapan mental kerja
yang dimaksud dalam penelitian ini
adalah suatu kemantapan
yang dimiliki seseorang
untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan sikap tenang tanpa rasa
emosi, rasa percaya diri serta
mempunyai pertimbangan-pertimbangan yang
logis sehingga tidak mengalami hambatan.
3. Prestasi Praktik Kerja Industri
Dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia
prestasi adalah hasil
yang telah dicapai dari yang telah dilakukan, dikerjakan dan sebagainya
(Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, 2007: 895), sedangkan menurut SumadinSuryabrata (2002:
297), bahwa prestasi
adalah nilai yang
merupakanperumusan terakhir yang dapat diberikan oleh guru mengenai
kemajuan belajar siswa selama masa tertentu. Berdasarkan beberapa pendapat di
atas dapat disimpulkan bahwa prestasi adalah hasil usaha yang telah dicapai siswa
selama masa tertentu setelah melakukan kegiatan.
Menurut Depdikbud
(1993: 39), praktik
kerja industri (Prakerin) adalah suatu kegiatan kurikulum
yang harus diikuti oleh siswa sekolah
menengah kejuruan sebagai
wahana untuk lebih
memantapkan hasil belajar dan
sekaligus memberikan kesempatan mendalami dan menghayati kamampuan hasil
tersebut dalam situasi
dan kondisi kerja
yang sesungguhnya.
Fungsi praktik kerja industri
selain ditinjau dari sudut kepentingansiswa,
dapat ditinjau pula
dari kepentingan pihak-pihak
yang terkait.
Fungsi tersebut dapat
diidentifikasi sebagai berikut (Depdikbud, 1993: 40):
a. Bagi sekolah (SMK).
1)
Kesempatan/peluang
untuk menjalin kerjasama secara lebih mantap
2)
dan
melembaga dengan dunia usaha.
2)
Peluang memperoleh masukan
dari dunia kerja
untuk perbaikan program dan
proses pembelajaran yang diselenggarakan.
3)
Peluang untuk memasarkan tamatan dan promosi sekolah.
b. Bagi lapangan kerja tempat siswa praktik
kerja industri.
1)
Peluang bagi lapangan
kerja untuk meningkatkan teknologi, produksi dan iklim kerja dengan
memanfaatkan kemampuan siswa.
2)
Peluang untuk mendapat tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan.
3)
Peluang untuk berperan
serta dalam upaya
peningkatan mutu tamatan sebagai
bagian tak terpisahkan
dari upaya pembangunan nasional, sehingga malahirkan
sesuatu kebanggaan tersendiri.
Menurut Depdikbud (1993: 40), tujuan
praktik kerja industri pada dasarnya
adalah memberikan kesempatan
pada siswa SMK
untuk mendalami dan menghayati situasi dan kondisi dunia usaha yang
sesuai dengan program studinya dalam situasi yang sebenarnya agar dapat:
a. Meningkatkan, memperluas dan memantapkan keterampilan kejuruan sebagai bekal mamasuki
lapangan kerja.
b. Memberikan
pengalaman kerja yang
sesungguhnya sebagai usaha memasyarakatkan diri sebelum terjun ke
lapangan kerja dan masyarakat pada umumnya.
c. Menumbuhkembangkan dan
memantapkan sikap profesional
sesuai yang disyaratkan lapangan kerja.
d. Memperluas
cakrawala pandang terhadap
dunia usaha dibidangnya, struktur organisasi, jenjang
karir, asosiasi usaha, manajemen usaha dan lain-lain.
e. Memberikan kesempatan untuk mempromosikan
diri kepada lapangan kerja.
Kegiatan belajar dapat dilakukan
di sekolah maupun di luar sekolah, dengan belajar diluar sekolah siswa dapat
menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di sekolah, selain itu
juga dapat mengenal kondisi dunia kerja yang sesungguhnya sehingga pada saatnya
nanti siswa akan lebih siap untuk terjun kedunia kerja.
Praktik kerja
industri merupakan program
Sekolah Menengah Kejuruan yang aktivitas belajar siswanya dilaksanakan
di industri yang bertujuan untuk menambah pengetahuan
kerja pada siswa tentang dunia kerja
yang sesungguhnya. Dengan
terjun secara langsung
di lapangan siswa
akan terlibat langsung
dalam proses pekerjaan,
seluk beluk pekerjaan, hambatan
dan pencegahannya sehingga akan lebih paham dan siap dalam menghadapi dunia
kerja nantinya. Pendidikan di dunia kerja atau
industri merupakan upaya
yang sangat bermanfaat
bagi siswa sehingga dengan
terjun langsung ke dunia kerja
atau industri akan mendapat informasi yang nyata tentang
pekerjaan yang sesungguhnya.
Praktik kerja industri merupakan
kegiatan belajar di industri guna mempelajari
wujud bidang kerja
yang sebenarnya. Kemampuan
siswa yang didapat di
sekolah dapat dipraktekkan
secara nyata ketika
siswa tersebut melaksanakan praktik
kerja industri, sehingga
siswa dapat mengerti kompetensi
yang diajarkan sekolah
dan kompetensi yang dibutuhkan industri.
Tujuan dari praktik kerja industri
adalah memberikan pengalaman nyata kepada siswa tentang apa yang dilakukan di
industri, memahami metode yang
dipakai di dunia
kerja dan membandingkan
materi yang diperoleh di sekolah
dengan di industri. Praktik kerja lapangan sebagai salah satu
metode yang memberikan
pengalaman nyata kepada
siswa untuk mengetahui bidang kerja
yang sebenarnya dan akan memberikan manfaat baik
dalam meningkatkan penguasaan
kognitif, afektif dan psikomotorik.
Jadi praktik kerja industri
merupakan suatu upaya untuk memberikan kepada siswa bekal pengalaman kerja di
industri, agar setelah lulus dapat lebih cepat menyesuaikan dengan lingkungan
kerjanya. Hal ini mengingat suatu
lembaga pendidikan untuk
dapat memiliki peralatan
yang sesuai dengan kondisi dan
tuntutan dunia industri dibutuhkan biaya yang sangat mahal dan
sulit untuk membuat
kondisi sekolah sesuai
dengan kondisi dunia kerja. Oleh
karena itu belajar langsung melalui praktik kerja industri di industri
dirasa merupakan langkah
yang efektif untuk
mencapai kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Dengan
praktik kerja industri siswa
akan dapat terlibat langsung
dengan suasana dan lingkungan kerja yang sesungguhnya.
Pembelajaran di
sekolah sangat terbatas
pada waktu dan
fasilitas yang tersedia. Fasilitas
di industri yang
disediakan selalu mengikuti perkembangan teknologi secara
cepat, karena di industri pekerjaan yang dilaksanakan berkaitan langsung dengan
proses produksi barang maupun jasa.
Implementasi kemampuan
siswa di industri dapat
menambah kepercayaan diri siswa dalam menyelesaikan pekerjaan.
Pelaksanaan program praktik kerja
industri tidak hanya bermanfaatbagi siswa yang bersangkutan, tetapi juga
bermanfaat bagi sekolah dan industri tempat praktik kerja industri. Hasil
belajar siswa selama praktik kerja
industri menjadi lebih
berarti karena siswa
melakukan secara langsung.
Lulusan SMK ketika masuk dunia kerja menjadi percaya diri karena sudah
mengetahui lebih dahulu kondisi industri secara nyata.
Jadi yang
dimaksud dengan prestasi
praktik kerja industri
dalam penelitian ini adalah
hasil atau pencapaian
pengetahuan yang dicapai
selama proses belajar
mengajar praktik kerja
industri yang ditunjukkan dengan nilai praktik dari pihak
industri.
B. Penelitian Yang Relevan
Hasil penelitian
yang telah dilakukan
oleh Jartongat
(1995: 65) menunjukkan adanya
hubungan positif dan
signifikan antara praktik
kerja lapangan dan kesiapan sikap kerja dengan besar sumbangan 17,185%
pada taraf signifikan 5%.
Demikian juga penelitian
yang dilakukan oleh Sumuharyati (1998: 58) terdapat
hubungan yang positif dan signifikan antara pengalaman praktik
kerja industri dan
kesiapan kerja dengan
koefisien korelasi 0,552 dan sumbangan afektif 13,402%.
Hasil penelitian yang dilakukan
oleh Nurhasan (2004: 62) menunjukkan adanya
hubungan yang positif
dan signifikan antara
pelaksanaan praktik industri terhadap
kesiapan kerja siswa
dengan koefisien korelasi
sebesar 0,910 pada taraf
signifikansi 5%. Hal
ini berarti bahwa
semakin baik pelaksanaan praktik
industrinya semakin baik
pula kesiapan kerja
siswa. Pelaksanaan praktik kerja industri memberikan sumbangan yang
positif dan signifikan terhadap kesiapan kerja siswa sebesar 36,024%.
C.
Kerangka Berpikir
Praktik kerja industri merupakan
aspek utama dalam membentuk siswa untuk bisa terampil dalam menghadapi dunia
kerja. Kegiatan praktik kerja industri
ini memungkinkan siswa
untuk melakukan suatu
kegiatan yang sesuai dengan
jenis, macam dan situasi kerja yang sesungguhnya. Dengan
kegiatan ini siswa telah terlatih
atau terkondisi dengan lingkungan industri yang
sesungguhnya sehingga siswa
akan mempunyai kemampuan
kerja sesuai dengan kemampuan praktik yang dibutuhkan oleh industri.
Dalam melaksanakan praktik
kerja industri masing-masing siswa memiliki keterampilan atau kemampuan
yang beragam, ada yang tinggi dan ada yang rendah sehingga prestasi yang
diraihnyapun sangat beragam. Tinggi rendahnya prestasi praktik kerja industri
siswa menunjukkan tinggi rendahnya penguasaan terhadap pengetahuan dan
keterampilan praktik yang diajarkan. Disamping itu prestasi praktik kerja
industri akan berpengaruh terhadap aspek psikologisnya, siswa
yang mempunyai prestasi
yang tinggi akan
merasa percaya diri dan
besar harapannya terhadap
kemampuan kerja yang dimilikinya. Dengan
demikian prestasi praktik
kerja industri diduga mempunyai hubungan dengan kesiapan
mental kerja siswa.
J.
Daftar Pustaka
Agus Triwibowo. (1999). “Pengaruh
Pendidikan Sistem Ganda (PSG) Terhadap
Kesiapan Mental
Kerja Siswa Kelas
III SMK Negeri 1 Nabire”. Proposal, tidak
diterbitkan. USWIM. Nabire.
Anonim. (30 Maret 2010).
“Bioetanol Berbahan Baku Jagung”.
http://www.jawap
os.com/radar/index.php?act=detail&rid=150511.
Diambil pada tanggal
4 Mei 2010.
. (18 Juni 2008). “Kejuruan
Mengentaskan Pengangguran”. http://ww
w.
waspada.co.id/index.php?option=comcontent&view=article&id=22551:
kejuruanmengentaskanpengangguran&catid=25:artikel&Itemid=44.
Di
ambil pada
tanggal 13 April 2010.
(6 Juni 2009). “Lulusan SMK Dominasi
Pengangguran”. http://cetak.bang
kapos.com/ragam/read/16683. html.
Diambil pada tanggal 10 Maret 2010.
(27 Februari 2010). “Pointer Bahan
pidato Menakertrans RI Pada Aca
ra Kunjungan
Ke SMK Diponegoro Depok-
Sleman”. http://menteri.Depnaker
trans.go.id/uploads/pidato/20178079054b8c88838423e.pdf. Diambil
pada tanggal 24 april 2010.
(8 Maret 2010). “SMK Muhammadiyah
1 Bambanglipuro Miliki Alat Praktik
Standar Industri”.
http://www.pendidikandiy.go.id/?view=bacaberita&idsub
=1746. Diambil pada tanggal 4 mei
2010.
(2 Januari 2009). “Tekan
Pengangguran Dengan Sekolah Kejuruan”. http
://
www.beritadaerah.com/artikel.php?pg=artikel_national&id=6689&sub
= Artikel&page=15. Diambil
pada tanggal 10 Maret 2010.
(2003). “Undang-undang Republik
Indonesia Nomor 20
Tahun 2003
Tentang Sistem Pendidikan Nasional”. http://www.inherent-
diktik.Net/files /sisdiknas.pdf.
Diambil pada tanggal 10 Maret 2010.
(2008). “Peraturan Menteri
Pendidikan Nomor 40 Tahun 2008 Tentang
Standar Sarana dan Prasarana Untuk Sekolah Menengah
Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan
(Smk/Mak)”. http://www.inherent-
diktik.net/files/sisdiknas.pdf.
Diambil pada tanggal 26 Mei 2010.
Ariopsmk. (24 September 2009).
“Perkuat Daya Saing Global Siswa Smk”. http://
www.ditpsmk.net/?page=news;OTEw&guest4ace4fad33832. Diambil
pada tanggal 10 Maret 2010.
Bimo Walgito. (1998). Psikologi
Sosial. Yogyakarta: PPGT.
Depdikbud. (1993). Garis-Garis
Besar Program Pengajaran (GBPP). Buku
II
Jakarta : Depdikbud.
Herminarto sofyan.
(1992). “Kesiapan Kerja
siswa STM di
Nabire”. Laporan
Penelitian, tidak diterbitkan.
USWIM. Nabire.
Ida Bagus Weda Adnyana. (1996).
“Hubungan Antara Kemampuan Kejuruan dan
Pengalaman Kerja
Lapangan Dengan Kesiapan
Mental Kerja Siswa
Kelas III STM Negeri Singaraja
Bali”. Skripsi, tidak diterbitkan. USWIM.
Nabire.
Jarkongat. (1995).
“Kontribusi Prestasi Belajar,
Kreativitas Siswa dan
Praktek
Kerja Lapangan
Terhadap Kesiapan Kerja
Siswa Jurusan Bangunan
Sekolah Teknologi Menengah Di
Banyumas”. Skripsi, tidak diterbitkan.
USWIM, Nabire.
Chaplin, JP. (2002). Kamus Lengkap
Psikologi (penerjemah: Kartini Kartono).
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Moh. As’ad. (1991). Psikologi industri.
Cetakan ke 4.
Yogyakarta: Penerbit
Liberty.
Nurhasan. (2004). “Kontribusi
Pelaksanaan Praktek Industri (PI) Dan
Layanan
Bimbingan Karir
Kejuruan (BKK) Terhadap
Kesiapan Kerja Siswa
Kelas III
SMK 45 Wonosari”.
Skripsi, tidak diterbitkan. UNY.
Yogyakarta
Poerwadarminto. (1985). Kamus Umum
Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai pustaka.
Purbayu Budi
santoso dan Ashari
(2009). Analisis Statistik
dengan microsoft
Excel dan SPSS. Yogyakarta:
Penerbit Andi.
Sudiyanto. (2008).
“Hubungan Antara Kemandirian
Belajar Dan Pengalaman
Praktek Industri
Dengan Kesiapan Kerja
Siswa Kelas III
Jurusan
Teknik Otomotif SMK Negeri
1 Nabire
Papua”. Skripsi, tidak
diterbitkan. USWIM, Nabire.
Sugiyono. (2010). Statistika Untuk
Penelitian. Bandung : Alfabeta.
Suharsimi Arikunto. (2007).
Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.
Sumardi Suryabrata. (2002).
Psikologi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo.

Komentar
Posting Komentar